Senin, 12 Desember 2011

aktive learning dalam bahasa arab



Sabtu, 10 Desember 2011


aktife learning dalam bahasa arab


BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar belakang
Pembelajaran pada dasarnya merupakan upaya untuk mengarahkan anak didik kedalam proses belajar mengajar, sehingga mereka dapat memperoleh tujuan belajar sesuai dengan apa yang di harapkan. Pembelajaran hendaknya memperhatikan kondisi indifidu anak, karena merekalah yang akan belajar, anak didik merupakan indifidu yang berbeda satu sama yang lain, memiliki keunikan masing-masing yang tidsk sama dengan orang lain.
Oleh karena itu, pembelajaran hendaknya memperhatikan perbedaan-perbedaan tersebut. Sehingga pembelajan benar-benar merubah tiap indifidu dari yang tidaktau menjadi tau, dari yang tidak faham menjadi faham serta yang berprilaku  kurang baik menjadi baik.
Penbelajaran yang kurang memperhatikan perbedaan indifidu anak, dan di dasarkan pada keinginan guru, akan sulit untuk mengantarkan anak didik kearah pencapaian tujuan pembelajaran yang maksimal. Melalui pembelajaran yang tidak memperhatikan perbedaan indifidu tersebut maka akan menjadikan kegagalan dalam proses pembelajaran di sekolah. Menyadari kenyataanj seperti ini, para ahli berupaya untuk mencari dan merumuskan setrategi yang dapat merangkul semua perbedaan yang di miliki anak didik. Belajar yang di tawarkan adalah setrategi belajar aktife”actife learning strategi”
B. Rumusan Masalah
1.  Apa pengertian actife learning?
2.  Apa media pembelajaran untuk actife learning?
3.  Apa tata letak kelas untuk actife learning?
4.  Apa model-model setrategi actife learning?
BAB II
PEMBAHASAN
A. Pengertian Active learning
Pembelajaran active di maksudkan untuk mengoptimalkan semua potensi yang di miliki anak didik, sehingga semua anak didik dapat mencapai hasil belajar yang memuaskan sesuai dengan karakteristik pribadi yang mereka miliki. Selain itu pembelajaran aktive juga di maksudkan untuk menjaga perhatian siswa agar tetap tertuju paada proses pembelajaran
Sedangkan active learning  merupakan salah satu aplikasi dari teori konsep tentang manusia menurut Abraham maslow, dimana ia mengatakan bahwa potensi manusia tidak terbatas. Maslow juga memandang manusia lebih optimis untuk menatap masa depan dan memiliki potensi yang akan terus berkembang.
Active learning mencoba membuktikan bahwa semua anak punya potensi untuk berkembang sesuai dengan fase-fasenya. Dengan strategi ini seseorang atau siswa dapat berkembnag  dengan dapat dilihat dari kreatifitasnya dan tentu saja dalam memecahkan masalahnya. Active learning menjadikan siswa sebagai subyek belajar  dan berpotensi untuk meningkatkan kreatifitas atau lebih aktife dalam setiap pelajaran yang di berikan baik di dalam maupun di luar kelas. Dalam strategi ini siswa diarahkan untuk belajr aktife dengan cara menyentuh (touching), merasakan (feeling) dan melihat (looking) langsung serta mengalaminya sendiri sehingga pembelajran lebih bermakna dan mudah di mengerti. Guru dalam hal ini di tuntut untuk memotifasi siswa dan memberi fasilitas yang di perlukan.[1] Jadi, active learning adalah suatu pembelajaran yang mengajak peserta didik untuk belajar secara aktif menggunakan otak, baik untuk menemukan lde pokok dari materi sekolah, memecahkan  persoalan, atau mengaplikasikan apa yang baru mereka pelajari kedalan satu persoalan yang ada dalam kehudupan nyata[2].
B. Media Pembelajaran Untuk Actife Learning
1.        Pengertian
Kata media berasal dari kata latin ”medius” yang artinya tengah. Sedangkan dalam bahasa arab media berasal dari kata “wasaaila” artinya pengantar pesan dari pengirim kepada penerima pesan. Secara umum media adalah semua bentuk perantara untuk menyebar, membawa atau menyampaikan sesuatu pesan dan gagasan pada penerima.
Penggunaan media dalam pengajaran bahasa bertitik tolak dari teori yang mengatakan bahwa totalitas persentase banyaknya ilmu pengetahuan, ketrampilan dan sikap yang di miliki oleh seseorang terbanyak dam tertinggi melalui indera lihat dan pengalaman langsung melakukan sendiri, sedangkan selanjutnya melalui indera dengar dan indera lainya (soenjoyo dirjo soemarto,1980)[3]
Ciri-ciri media pembelajaran
·        Penggunaanya dikhususjkan atau dialokasikan pada kepentinganya
·        Merupakan alat untuk menjelasakan apa yang ada di buku pelajaran baik berupa kata-kata symbol atau bahkan angka-angka
·        Media pembelajaran bukan hasil kesenian
·        Pemanfaatan media pembelajaran tidak sebatas pada suatu keilmuan tertentu tapi digunakan pada seluruh keilmuan
2. Peranan media pembelajaran
Al fazan (2003) menyebutkan bahwa media pembelajaran mempunyai peranan yang sangat penting untuk menigkatkan efektifitas proses belajar mengajar, yaitu:
1.                      Memperkaya pengalaman belajar peserta didik
 Hal ini karena peserta didik menyaksikan dan  merasakan secara langsung tema pembahasan yang dibicarakan dl kelas serta dapat mempermudah dalam memahaminya karena disampaikan dengan cara yang menarik melalui media tertentu
2.                       Ekonomis
maksudnya adalah bahwa proses belajar mengajar dengan menggunakan media akam menyanpaikan risalah pembelajaran secara efektif dalam waktu yang relative lebih cepat dibandingkan dengan tanpa menggunakan media, pada saat yang sama tenaga yang dibutuhkan untuk menyampaikan atau menjelaskan pepelajaran relative lebih sedikit juga
3.                      Meningkatkan perhatian peserta didik terhadap pelajaran
Melalui media pembelajaran materi pelajaran yang di sampaikan oleh guru akan lebih jelas, karena media mendekatkanya pada kenyataam yang dapat di rasakan secara langsung
4.                      Membuat peserta lebih siap belajar
Peserta didik akan mendapatkan pengalaman secara langsung, situasi pembelajaranpun berjalan lebih efektif dan membuahkan hasil yang lebih baik. Karena itu keinginan peserta didik dan kesiapanya untuk belajar lebih meningkat juga
3. Jenis media pembelajaran bahasa.
Secara umum media pembalajaran bahasa diklasifiksikan menjadi tiga, yaitu:
a.                         Media perangkat / peralatan (al ajhizah)
Media ini ada dua kategori :
1.      Kategori pertama yaitu perangkat teknis yang meliputi
·   Dengar (al ajhizah al samiyah) seperti radio, tape recorder, cd dam laboratorium bahasasderhana
·   perangkat perangkat pandang ( al ajhizah al bashariyah) seperti alat untuk menampilkan gambar, alat peraga, proyektor untuk menampilkan transparan dan lain-lain
·   perangkat dengar pandang ( al ajhixah al samiyah al abagyariyah) seperti televise, video, LCD, dam laim-lain
2.      kategori kedua yaitu perangkat elektronik. Seperti computer.
b.                        media jenis materi pembelajaran(al-mawad al-ta’limiyah al-ta’allumiyah)
Dibagi menjadi tiga kategori yang pertama media cetak (mawad mathuah) seperti buku, gambar, peta, leflet, transparan, kartu dan symbol, yamg ke dua media materi pandang dengar tidak bergerak (mawad samiyah basyoriah tsabitah ) seperti yang tidak bergerak dan sejenisnya. Dan kategori ke tiga media materi pandang dengar bergerak(mawad samiyah basyoriah mutaharikah) seperi file, kaset fidio, dan vcd
c.                         Media jenis penunjang pembelajran (annasatoth al-ta’limiyah)
seperti kegiatan rihlah dan kunjungan (ziarah) pameran, sandiwaram perlombaan dan lain-lain
Sementara dari segi penggunaan media di kaitkan dengan indra yang di gunakan manusia untuk memperoleh pengetahuan, media di klasifikasikan menjadi tiga macam:
1.      Media basyoriah
Media ini dapat berupa alat peraga yaitu benda-benda alamiah, orang dan kejadian
2.      Media sam’iyat
Seperti radio, tip recorder, laboratorium bahsa dan lain-lain
3.      media sam’iyat basoriyah
Seperi video, televisi, computer dan lain-lain[4]
C. Tata Letak Kelas Untuk Actife Learning
Tata letak yang di maksudkan dalam bab ini adalah tata letak yang di sajikan tidak di maksudkan sebagai formasi yang permanent, akan tetapi jika media yang di gunakan dapat di pindah-pindah, maka dapat di lakukan sesuka hati sesuai dengan yang kita inginkan. Namun tetap perlu di perhatikan hal-hal berikut:
1. Kenyamanan belajar
Yakni siswa tidak merasa terganggu dengan penataan ruangan, sehingga mereka merasa nyaman dan kerasan dalam belajar
2. Variasi kerja siswa
Yakni kelas di tata yang dapat memberikan kemungkinan siswa bekerja secara kelompok ataupun indifidu
3. Interaksi
Yakni kelas di tata agar terjadi interaksi belajar yang baik antara siswa, guru dan suasana ruangan. Dan juga di tata agar terjadi interaksi banyak arah. Dll[5]
Beberapa alternatif formasi yang dapat di gunakan antara lain
  1. formasi “u”atu setengah lingkaran
Ini nerupkan ssusuman untuk berbagai tujuan. Par pserta didik neniliki permukaan untuk nemulis dan membaca. Para peserta didik dapat melihat media visual dengan mudah dan mereka dapat salomg berhadapan lamgsung dengan yang lain. Ini juga mudah untuk memesangkan mereka, terutama ketika terdapat dua tempat duduk setiap meja. Susunan lni ideal untuk membagi bahan pelajaran kepada peserta didik segara tepat  karena anda dapat masuk ke huruf U dan berjalam ke berbagai arah dengan seperangakat materi.
  1. Corak tim
Cara ini dengan mengelompokkan meja-meja setengah lingkaran atau oblong di ruang kelas agar memungkinkan anda untuk melekukan interaksi tim. Anda dapat meletakkan kursi-kursi mengelilingi meja-meja untuk susunan yamg palimg akrab. Jika amda melakukan, beberapa peserta didik harus memutar kursi mereka melingkari menghadap ke depan ruang kelas untuk melihat anda, papan tulis atau layar.
Atau anda dapat meletakkan kursi-kursi setengah limgkaran sehingga tidak ada siswa yang memcelakangi papan tulis.
  1. Meja konferensi
Susunan ini mengurangi pentingnya pengajaran dan menambahkan pentingya peserta didik. Susunan ini membebtuk perasaan formal jika pengajar ada pada ujung meja. Jika pengajar duduk ditengah-tengah sisi yang luas, peserta didik di ujung merasa tertutup.Anda dapat membentuk sebuah susunan meja konferensi dengan menggabungkan beberapa meja kecil.
  1. Lingkaran
Para peserta didik duduk pada sebuah lingkaran tanpa meja atau kursi untuk lnteraksi berhadap-hadapan secara langsung. Sebuah lingkaran ideal untuk diskusi kelompok penuh. Sediakan ruangan yang cukup, sehingga anda dapat menyuruh peserta didik menyisun kursu-kursi mereka secara cepat dalam brbagai susunan kelompok kecil.
Jika anda menginginkan peserta didik memiliki tempat untuk menulis, gunakan susunan peripheral. Suruhlah mereka memutar kursi-kursinya melingkar ketika anda menginginkan diskusi kelompok.
  1. Kelompok untuk kelompok
Susunan ini menginginkan anda melakukan diskusi fishbowl (mangkok ikan) atau untuk menyusun permainan peran, berdebat atau observasi aktifitas kelompok. Susunan yang paling khusus terdiri dari dua konsentrasi kursi. Atau anda dapat meletakkan meja pertemuan ditengah-tengah, dikelilingi oleh kursi-kursi pada sisi luar.
  1. Workstation
Susunan ini tepat untuk lingkaran tipe laboratorium aktif, di mana setiap peserta didik duduk pada tempat yang mengerjakan tugas (seperti mengopersilam computer, mesin, melekukan kerja laborat) tepat setelah didemomstrasikan. Tepat berhadapan mendorong partner belajar untuk menempatkan dua pesrta didik pada tempat yang sama.
  1. Breakout groupings
Jika kelas anda cukup besar atau jika ruangan menginginkan, letakkan meja-meja dan kursi dimana kelompok kecil dapat melakukan aktifitas belajar di dasarkan pada tim. Tempatkan susunan pecahan-pecahan kelompok nsalimg berjauhan sehingga tim-tim itu tidak saling mengganggu. Tetapi hindarkan penempatan ruangan  kelonpok-kelomok kecil terlalu jauh dari ruang kelas sehingga hubungan di antara mereka sulit dijaga.
  1. Kelas tradisional
Jika tidak ada cara untuk membuat lingkaran dari baris lurus yang berupa meja dan kursi, cobalah mengelompokkan kursi-kursi dalam pasangan-pasangan untuk memungkinkan penggunaan teman belajar. Cobalah membuat nomer gelap dari baris-naris ruangan yang cukup diantara sehingga pasangan-pasangan peserta didik pada baris-baris nomer ganjil dapat memutar kursi-kursi mereka melingkar dan membuat persegi panjang dengan pasangan tempat duduk persis di belakang mereka pada baris berikutnya.
  1. Auditorium
Meskipun auditorium menyediakan lingkungan yang sangat terbatas untuk belajar aktif, namun masih ada harapan. Jika tempat duduk-tempat duduk itu dapat dengan mudah dipindah-pindah, tempatkan mereka dalam sebuah arc (bagian lingkaran) untuk membentuk hubungan lebih erat dan visibilitas pesrta didik.
Jika tempat-tempat itu cocok, suruhlah peserta didik agar duduk sedekat mungkin ke pusat. Berlaku adertif terhadap bentuk ini, sekalipun dianggap barisan lepas dari sisi auditorium.   [6]
D. Model-Model Setrategi Actife Learning
Dalam hal ini, siberman (2006) mengemukakan beberapa model strategi belajar aktife, dam juga di kuatkan oleh hisam zaini dkk (2004) dalam bukunya “strategi belajar actife”  dan beberapa sumber dari buku lain tentang strategi actife learning.diantaranya:
1.      critical incident (pengalaman penting)
Strategi ini sigunakan untuk memulai pelajaran. Tujuan dari penggunaan strategi ini untuk melibatkan peserta didik sejak awal dengan melihat pengalaman mereka.
Prosedur:
·         Sampaikan kepada peserta didik tentang topic atau materi yang akan dipelajari
·         Beri kesenpatan beberapa menit kepada peserta didik untuk mengingat pengalaman mereka yang tidak terlupakan berkaitan dengan materi yang ada
·         Tanyakan pengalaman apa yang menurut mereka tidak terlupakan
·         Sampaikan materi pelajaran dengan mengkaitkan pengalaman peserta didik dengan materi yang akan disampaikan.
2.      Assessment Search (Menilai Kelas)
strategi ini dapat dilakukan dengan cara yang sangat cepat dan sekaligus melibatkan peserta didik untuk saling mengenal dan bekerjasama.
Prosedur:
  1. Buatlah tiga atau empat pertanyaan untuk mengetahui kondisi kelas, pertanyaan itu dapat berupa:
    • Pengetahuan peserta didik terhadap materi pelajaran
    • Sikap mereka terhadap materi
    • Pengalaman mereka yang ada hubungannya dengan materi
    • Ketrampilam yang telah mereka peroleh
    • Latar belakang mereka
    • Harapan yang ingin didipat peserta didik dari mata pelajaran ini
  2. Tulislah pertanyaan tersebut sehingga dapat dijawab secara kongkret.
  3. Bagi peserta didik menjadi beberapa kelompok kecil, beri masing-masing peserta sisik satu pertanyaan dan minta masing-masing untuk mengintervuew teman satu kelompok untuk mendapatkan jawaban dari mereka
  4. Pastikan bahwa setuap peserta didik memounyai pertanyaan sesuai dengan bagiannya. Dengan demikian, jika jumlah peserta didik adalah 18, yang dibagi menjadi tiga kelompok, maka ada 6 oramg yang mempunyai pertanyaan yang sama.
  5. Mintalah masing-masing kelompok untuk menyeleksi dan meringkas data dari hasil intervuw yang telah dilakukan
  6. Mita masing-masing kelompok untuk melaporkan hasil dari apa yang telah mereka pekajari dari temannya ke kelas
Catatan:
Siswa dapat diminta untuk membuat pertanyaan sendiri
Dengan pertanyaan yang sama, buat mereka berpasangan dan menginterview pasangannya secara bergantian
Minta mereka melaorkan hasilnya ke kelas
(variasi ini cocok untuk dalam kelas besar)[7]
3.      Question Student Have (Pertanyaan Peserta Didik)
Quesen student have ini di gunakan untuk mempelajari tentang keinginan dan harapan  anak sbagai dasar untuk me,aksi,alkam potensi yang mereka miliki. Str etegi ini menggunakan teknik untuk mendapatkan partisipasi siswa melalui tulisasn. Strategi ini di gunakan untuk mempelajari unsur bahasa seperti tata bahasa( qowaid)  hal tersebut tentunya setelah mendapatkan  penjelasan dari guru.
Hal imi sangat baik untuk siswa yang kurang berani mengungkapkan pertanyaan, keinginan dan harapan-harapan melalui percakapan,
Prosedurnya sebagai berikut:
a)      bagikan kartu kosong kepada siswa
b)      mintalah setiap siswa untuk menulis beberapa paertanyaan yang mereka miliki tentang mata pelajaran atau sifat pelajaran yang sedang di elajari
c)      putarlah kertas tersebut searah jarum jam. Ketika setiap kartu di putarkan pada peserta berikutnya peserta tersebut harus membacanya, dan memberikan tanda cek di sana, lika pertanyaanya sesuai yang mereka akan tanyakan
d)     saat kartu kembali ke pemiliknya, setiap peserta telah memeriksa semua pertanyaan yang yang di ajukan oleh kelompok tersebut, fase ini akan mengidentifikasi pertanyaan mana yang banyak di pertanyakan oleh siswa. Jawab pertanyaan tersebut dengan:
e)      jawaban langsung atau berikan jawaban yang berani
f)       menunda pertanyaan-pertanyaan tersebut sampai waktu yang tepat
g)      meluruskan pertanyaan yang menunjukkan bukan suatu pertanyaan
h)      panggil beberapa peserta berbagai pertanyaan scara sukarela, sekalipun pertanyaan mereka tidak mendapatkan suara terbanyak
i)        kumpulkan semua kartu. Kartu tersebut mungkin berisi pertanyaan yang mungkin di jawab pada pertanyaan berikutnya
Variasi:
  1. jika kelas terlalu besar,dan memakan waktu saat memberikan kartu pada siswa, nbuatlah kelas menjadi sub kelompok dan lakukan instruksi yang sama. Atau kumpulkan kartu dengan mudah tanpa menghabiskan waktu dan jawab salah satu pertanyaan.
  2. Meskipun meminta pertanyaan dengan satu kartu indek,mintalah peserta menulis harapan mereka dan atu mengenai kelas, ytopik yang anda akan bahas atau alas an dasar mengenai partisipasi kelas yang akan mereka amati.
  3. Varisai juga dapat dilakukan dengan meminta peserta untuk memeriksa dan menjawab semua pertanyaan yang di ajukan oleh kelompok-kelompok tersebut.
4.      Reconnecting ( Menghubungkan Kembali)
Strategti ini di gunakan untuk mengembalikan perhatian peserta didik pada pelajaran setelah beberapa saat  tidak melakukan aktifitas tersebut.
Prosedurnya sebagai berikut
  1. ajaklah anak didik kembali ke pelajaran. Jelaskan pada anak didik bahwa menghabiskan beberapa menit untuk mengaitkan kembali pelajaran denagn pengetahuan anak akan memberi makna yang berarti.
  2. Tentukan satui atu lebih dari pertanyaan-pertanyaan berikut ini pada peserta didik. 
    • Apa yang masih anda ingat tentang isi materi terahir kita? Apa saja yang masih bertahan pada diri anda?
    • Sudahkan anda membaca, berfikir melakukan sesuatu yang di  rangsang oleh pelajaran terahir kita?
    • Pengalaman menarik apa yamg telah anda miliki di antara elajaran-pelajaran yang telah anda teriana?
    • Apa saja yang ada dalam pikiran anda (misalnya sebuah kekewatiran) yang mungkin mengganggu kemampuan anda untuk memberi perhatian terhadap pelajaran ini?
    • Bagai mana perasaan anda hari ini? 
  3. Dapatkan respom dengan memberikan respon menghubungkan salah satu format, seperti sub kelompok atau pembicaraan dengan urutan berikutnya
  4. Hubengkan dengan topic sekarang.
 Variasi ini dapat di gunakan oleh seorang guru bahasa untuk mengajarkan mufrodad dan ketrampilan berbicara
5.      Synergentic Teaching (Pengajaran Sinergetik)
strategi ini di maksudkan untuk memberi kesempatan pada siswa membandigkan pengalaman-pengalaman yang mereka peroleh dengan teknik yang brbeda dari yang mereka miliki.
Prosedur
a.       bagi kelas memjadi du kelompok
b.      salah satu kelompok di pisahkan keruang lain untuk membaca topik pelajaran
c.       kelompok yanglain di beri materi yang sama dengan metode yang di inginkan oleh guru
d.      pasangkan masing-masing anggota kelompo pembaca dan kelompok penerima materi pelajaran dari guru dengan tugas  mengumpulkan atau meringkas materi pelajaran
6.      Jiksaw( Model Tim Ahli)
Strategi ini merupakan strategi yang menarik untuk di gunakan jika materi yang di pelajari dapat di bagi menjadi beberapa bagian dan materi tersebut tidak mengharuskan urutan penyampaian. Kelebihan strategi ini dapat melibatkan seluruh siswa dalam belajar sekaligus mengajarkan ada orang lain. Setrategi ini cocok di gunakan untuk pelajaran ketrampilan berbicara dan membaca.
Prosedur:
  1. siswa di kelompokkan menjadi empat anggota tim
  2. tiap orang dalam tim di beri materi yang berbeda
  3. tiap orang dalam tim di beri bagian materi yang di tugaskan
  4. anggota dari tim yang berbeda yang telah mempelajari sub bab yang sama bertemu dalam kelompok baru ( tim ahli) untuk mendiskusikan sub bab mereka
  5. setelah selesai diskusi sebagai tim ahli tiap ahli anggota kelomok kembali ke kelompok asal dan bergantian mengajar teman satu tim mereka tentang sub bab yanfg mereka kuasai dan tiap teman lainya mendengarkan dengan sungguh-sungguh
  6. tiap tim ahli mempresentasikan hasil diskusinya
  7. guru memberi evaluasi
7.      Cerd Sort(Kartu Sortir)
Setrategi ini merupakan kolaboratifyang bisa di gunakan untuk mengajarkan konsep, penggolongan sifat, fakta tentang suatu obyek, atau mengulangi informasi. Strategi ini cocok sekali intuk mengajarkan kosa kata, istilah-istilah, dan lain sebagainya,
prosedur
  1. masing-masing siswa di beri kartu indek yang berisi materi pelajaran.kartu indek diberikan scara berpasangan beradasarkan devinisi, kategori, kelompok, misalnya kartu yang beraliran empiris denagn kartu pendiikan di tentukan oleh lingkungan dan lain-lain, makin banyak siswa makin banyak pula kartunya
  2. guru menunjuk salah satu siswa yang memegang kartu, siswa yang lain di minta berasangan dengan siswa tersebut bila merasa kartu yang di pegangnya merasa berpasangan yaitu memiliki kesamaan devinisi atau kategori
  3. agar situasinya tambah seru dapat di berikan hukuman bagi siswa yang melakukan kesalahan. Jenis hukuman di buat atas kesepakatan bersama
  4. guru dapat membuat catatan penting di papan tulis pada saat prosesi berlangsung.
8.      Resume Kelompok
Strategi resum kelompok secara khusus  menggambarkan sebuah prestasi kecakapan dan pencapaian indifidu, sedangkan resume kelompok merupakan cara yang menyenangkan untuk mmbatu para peserta didik dalam mengenal, atu melakukan kegiatan membangun tim  darti sebuah yang para anggota telah mengenal satu sama lain
prosedur
  1. bagilah peserta didik dalam kelompok tiga sampai enam orang tiap kelomoknya
  2. beri tahukan pada kelas iru, bahwa kelas berisi sebuaj kesatuan bakat dan pengalaman yang sangat hebat
  3. sarankan bahwa salah satu cara untuk mengenal dan menyampaikan salah satu mata pelajaran adalah dengan membuat resum kelomok
  4. ajukan setiap kelompok untuk  menyamaiksn resumanya,[8]
9.      in’ikhas al-maudlu’
strategi ini berisi tema bacaan yang dapat di sampaikan di luar kelas dan sangat cocok untuk pembelajaran kitabah Strategi ini dapat menjadi eksperimen yang menarik bagi para siswa untu mengeksplorkan obyek langsung melaui kaca mata pemikiranya sendiri.
Prosedur:
  1. tahap persiapan: guru menyediakan gambar dan mengajak siswa keluar kelas untuk melihat langsung obyek yang akan di tulis ( obyek yang di pasang sesuai dengan pelajran yang akan di sampaikan)
  2. tahap pelaksanaan: siswa di minta untuk mengamati obyek scara langsung. Mereka di suruh untuk menulis obyektersebut scaa runtut dan logis.
  3. Setiap siswa di minta untuk menyampaikan atau mempresentasikan hasil tulisanya tersebut, dan guru meminta alas an terhadap tulisanya tersebut
  4. Pelajaran di akhiri dengan klarifikasi dari guru
10.  la fahim raisiyyah
strategi ini bermanfaat untuk merangkum isi teks wacana yang kemudian di tuangkan dalam bentuk tulisan dan pembicaraan. Rangkuman tersebut dapat berisi gambar atudiagram yang berisi konsp-konsep yang saling berhubungan dengan garis panah.
Prosedur:
  1. pilih satu topic bahasan
  2. bagi siswa menjadi tiga atu empat kelomok
  3. minta siswa untuk membaca dan menelaah topic yang telah di tentukan kemudian membuat rang kuman dari hasil bacaan tersebut dalam bentuk gambar atu peta konsep
  4. setelah selesai minta tiapkelompokmelaui juru bicaranya untuk mempresentasikan hasilnya
  5. bandingkan hasil telaah pemikiran mereka
  6. evaluasi dan arahkan pola piker mereka hingga skema yang di buat sesuai dengan idie bacaan
11.  takhmin al-kalimat
tujuan dari strategi ini agar setuap siswa mampu mengeksplorkan kata atau kalimat sebanyak-banyaknya yang menunjukkan pada kata yang di maksud. Srategi ini dapat memperkaya perbendahaaan kata siswa di samping menciptakan iklim yang menarik dalam pelajaran.
Prosedur:
  1. siswa di bagi menjadi empat kelompok di mana tiap kelompok  berjumlah lima orang.( agar lebih menarik kursi dapat di susun secara melingkar bagi anggota kelompoknya )
  2. guru menunjukkan salah satu kata yang di tuliskan dalam selembar kertas ada salah satu anggota kelompoknya. Misalnya kata “قلم
  3. minta teman dari kelompok dua untuk mengungkapkan beberapa kalimat yang menunjukkan kalimat tersebut dengan alokasi waktu yang di tentukan contoh: هل هو خيوان؟ هل هو الة؟ هل هومقلمة؟قلم....
     sedangkan anggota kelompok satu dapat menjawab iya atu tidak
  1. bila tertebak gilir kata berikutnya pada kelompok ke dua, dan seterusnya
  2. buat skor penilaian dari kompetisi tersebut.
12.  Al-Qishas Al-Khoyaliyah
Strategi ini tepat di gunakan untuk menstimulasi refleksi siswa atas gambar-gambar srta obyek yang ada di sekitarnya. Dalam strategi ini siswa di tuntut untuk memiliki gagasan yang segar untuk menghubungkan antar obyek dan gambar tersebut menjadi wacana yang menarik
prosedur:
  1. siapkan sepuluh samai dua puluh gambar kemudian di temple alam dinding kelas. Siapkan pula gambar-gambar atau obyek yang berhubungan dengan gambar-gambar tesebut
  2. misalnya: buku, jam, dan angka apa hubunganya? Minta siswa untuk mengidentifikasi gambar tersebut dengan menghubungkan benda-benda yang ada
  3. beri waktu yang cukup untuk mengimajinasi atau menemukan ide yang nanti  di harapkan dapat di tuangkan dalam sebuah narasi
  4. minta siswa untuk menulis narasi yang runtut dan logis dengan waktu yang telah di tentukan
  5. minta siswa untuk membacakan hasil tulisanya dan siswa lainya mengkritisi tulisan tersebut dari berbagai sisi, dari gaya bahasa dan korelasi gambar yang ditayangkanya
  6. akhiri dengan menjelaskan kesalahan-kesalahan umum dalam tulisan siswa(common mistokes)[9]
BAB III
PENUTUP
Kesimpulan
1. Pengertian actife learning
Active learning adalah suatu pembelajaran yang mengajak peserta didik untuk belajar secara aktif menggunakan otak, baik untuk menemukan lde pokok dari materi sekolah, memecahkan  persoalan, atau mengaplikasikan apa yang baru mereka pelajari kedalan satu persoalan yang ada dalam kehudupan nyata
2. Media pembelajaran untuk actife learning
Secara umum media pembalajaran bahasa diklasifiksikan menjadi tiga, yaitu:
  1. Media perangkat / peralatan (al ajhizah)
  2. media jenis materi pembelajaran(al-mawad al-ta’limiyah al-ta’allumiyah)
  3. media jenis penunjang pembelajran (annasatoth al-ta’limiyah)
Sementara dari segi penggunaan media di kaitkan dengan indra yang di gunakan manusia untuk memperoleh pengetahuan, media di klasifikasikan menjadi tiga macam:
  1. Media basyoriah
  2. Media sam’iyat
  3. media sam’iyat basoriyah
3. Tata letak kelas untuk actife learning
  1. formasi “u”atu setengah lingkaran
  2. Corak tim
  3. Meja konferensi
  4. Lingkaran
  5. Kelompok untuk kelompok
  6. Workstation
  7. Breakout groupings
  8. Kelas tradisional
  9. Auditorium
4.      Model-model setrategi actife learning
Diantaranya :
1)      critical incident (pengalaman penting)
2)      Assessment Search (Menilai Kelas)
3)      Question Student Have (Pertanyaan Peserta Didik)
4)      Reconnecting ( Menghubungkan Kembali)
5)      Synergentic Teaching (Pengajaran Sinergetik)
6)      Jiksaw( Model Tim Ahli)
7)      Cerd Sort(Kartu Sortir)
8)      Resume Kelompok
9)      in’ikhas al-maudlu’
10)  la fahim raisiyyah
11)  takhmin al-kalimat
12)  Al-Qishas Al-Khoyaliyah


                [1] Umi Mahmudah Dan Abdul Wahab Rosyidi,Actve Learning Dalam Pembelajaran Bahasa Arab,Uin Malang Pres 2008  Hal 124
[2] Hisyam Zaini  Dkk, Strategi Pengelajaran Aktif,Pustaka Insan Madani,Yogyakarta,2008
[3] Nurcholish Madjid,Bahasa Arab Dan Metode Pengajaranya,Pustaka Pelajar,Yogyakarta, 2003 Hal74-75
[4]Abdul hamid dkk, pemblajaran bahasa arab pendekatan, metode,strategi, materi dan media,  uin malang pres 2008, hal 168-178
[5] Umi Mahmudah Dan Abdul Wahab Rosyidi,Actve Learning Dalam Pembelajaran Bahasa Arab,Uin Malang Pres 2008  Hal 124
[6] Mel Silberman,Active Lening 101 Strategi Pembelajaran Aktif, Pustaka Insane Madani, Yogyakarta 2002
[7] Ahmad Sabri,Strategi Belajar Mengajar Dan Micro Tcshing, Quantum Teacing, Jakarta 2005 Hal 122 Dan 125
[8] Umi Mahmudah Dan Abdul Wahab Rosyidi,Actve Learning Dalam Pembelajaran Bahasa Arab,Uin Malang Pres 2008  Hal  124-156
[9] Radliyah Zaenuddin Dkk,Metodologi Dan Strategi Alternative Pem,Belajaran Bahasa Arab,Pustaka Rihlah Group, Yogyakartab 2005


Tidak ada komentar:

Posting Komentar